Jumat, 07 Juni 2013





 



Sisi yang menarik dari pura ini adalah terdapatnya bangunan bekas peninggalan raja-raja ash Bali kuno, termasuk candi yang dipahat langsung di tebing, di sekitar pura. Pahatan dan bangunan-bangunan itu kini ditetapkan sebagai situs purbakala yang harus dilestarikan.

Ketika ke Bali, apa yang Anda lakukan selama berlibur di sana? Menghabiskan waktu bermain di pantai, membeli lukisan dan barang seni di daerah Ubud, atau mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Dari sekian agenda yang ada, seberapa tertarikkah Anda untuk mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Sepuluh orang yang ditanya mengenai hal ini menjawab bahwa kadar ketertarikan terhadap tempat seperti ini cukup tinggi.

Bentuk bangunan arsitektur Bali tidak hanya terbatas pada bangunan komersial atau hunian. Pura sebagai bangunan peribadahan merupakan bentuk bangunan yang bisa menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Bali.

Keberadaan pura di Bali memang jamak. Meskipun wisatawan tak bisa masuk ke dalam pura, memandang keelokan bentuk pura dari luar sudah cukup memikat wisatawan. Dari sekian pura yang ada di Bali, Pura Gunung Kawi adalah salah satu pura yang patut Anda kunjungi. Banyak alasan mengapa pura yang lokasinya berada di wilayah Banjar (Dusun) Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, harus Anda datangi.

Setidaknya ada dua alasan yang bisa memicu Anda untuk datang ke tempat ini. Pertama karena letaknya berada di lembah bukit, dan kedua karena letaknya dikelilingi oleh candi yang dipahat langsung di dinding.

Menuruni sekitar 320 anak tangga
Memasuki kawasan Pura Gunung Kawi harus menyiapkan tenaga ekstra. Pura ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh dari parkiran mobil. Dari pintu gerbang, tempat pengunjung harus membeli karcis masuk seharga Rp 6.000, kita harus menuruni sekitar 320 anak tangga. Ini tak lain karena letak pura terdapat di dasar lembah.

Perjalanan menuruni sekitar 320 anak tangga ini tak terasa melelahkan karena di sekeliling tangga Anda bisa melihat hamparan hijaunya sawah yang bentuk lahannya bertingkat. Selain itu, jika lelah, Anda bisa beristirahat di warung-warung yang ada di sebelah anak tangga.

Sesampainya di dasar lembah, Anda akan memasuki lorong panjang yang konon dibuat dengan cara membelah batu besar. Lorong ini adalah pintu masuk menuju kawasan Pura Gunung Kawi.

Kawasan yang ditemukan sekitar awal tahun 1910 ini terpisah menjadi dua bagian oleh Sungai/Tukad Pakerisan, bagian di sebelah barat dan bagian di sebelah timur Sungai Pakerisan. Di kedua bagian ini, Anda bisa melihat candi yang melekat langsung di dinding tebing. Candi yang dipahat langsung di dinding tebing inilah yang menjadi daya tarik mengapa Anda harus datang ke tempat ini.

Empat gugusan
Pahatan candi yang ada di dinding tebing batu ini memiliki beberapa makna dan fungsi, baik yang berada di sisi barat, maupun timur Sungai Pakerisan. Menurut beberapa sumber literatur, adanya pahatan ini mengilhami penamaan kawasan ini. Ada yang menyebutkan bahwa kata ukiran dalam bahasa Jawa Kuno adalah Kawi. Karena adanya candi yang diukir di dinding tebing dan berada di pegunungan, maka pura yang ada di kawasan ini disebut Pura Gunung Kawi.

Secara keseluruhan, pahatan candi di dinding tebing yang ada di kawasan Pura Gunung Kawi ini terbagi menjadi empat gugusan. Gugusan pertama terdiri dari 5 candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi timur sungai.

Pada pahatan candi yang ada di sisi paling utara terdapat tulisan "Haji Lumah Ing Jalu". Dari tulisan ini, ada yang menyebutkan bahwa candi di sisi paling utara ini digunakan untuk istana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sementara itu, candi di sebelahnya adalah istana untuk permaisurinya dan anak-anak Raja Udayana, Marakata dan Anak Wungsu.

Gugusan kedua terdiri dari empat candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi barat sungai. Dr R Goris, arkeolog dari Belanda, dalam beberapa literaturya menyebutkan bahwa keempat deretan candi ini berfungsi sebagai kuil (padharman) bagi keempat permaisuri raja.

Gugusan ketiga adalah bangunan biara dan ceruk (rongga besar) yang dipahatkan pada tebing yang terletak di sebelah selatan gugusan pertama. Adapun gugusan keempat merupakan sebuah candi dan ceruk yang digunakan sebagai tempat pertapaan. Letaknya berada sekitar 220 meter dari gugusan kedua.

Lantas, di mana letak puranya? Pura ini sendiri letaknya berada di samping gugusan candi pertama. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan pelengkap pura, seperti pelinggih dan bale perantenan.

Pura Gunung Kawi biasa digunakan pada saat upacara Piodalan. Upacara yang dilakukan setiap bulan purnama tiba ini adalah upacara pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan, pura, dan kahyangan.

Diukir dengan kuku jari
Jika ditilik ke masa lalu, keberadaan pura ini tidak terlepas dari gugusan-gugusan pahatan yang ada. Tulisan-tulisan yang ada di setiap pahatan yang berfungsi sebagai data arkeologi menunjukkan bahwa Pura Gunung Kawi dibuat pada abad ke-11.

Hal ini terlihat dari tulisan "Haji Lumah Ing Jalu". Bentuk tulisan ini adalah bentuk tulisan kadiri kuadrat yang lazim digunakan di kerajaan yang ada di Jawa Timur pada abad ke-11.

Pada masa itu, pemerintahan yang sedang berkuasa adalah Raja Marakatapangkaja. Oleh karena itu, banyak pihak yang mengatakan bahwa kompleks Aura Gunung Kawi ini dibangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu.

Salah satu bukti bahwa Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan pembangunan ini adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu. Selain itu, di sini juga terdapat makam Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin kerajaan terbesar di Bali.

Makam abu kedua raja ini berada di balik pahatan candi dinding. Dengan adanya makam ini, tak heran bila kompleks pura ini disebut sebagai makam Dinasti Warmadewa.

Beberapa sumber literatur dan warga di sekitar Pura Gunung Kawi menyebutkan bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh Kebo Iwa, tokoh legenda rakyat Bali yang memiliki kekuatan besar. Ia membuat pahatan candi di tebing batu ini menggunakan kuku tangannya.

Keelokan pahatan dinding dan pura yang ada di sini menawan dilihat dan harus dijaga keberadaannya. Oleh karena itu, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali menetapkan bahwa kawasan ini adalah aset purbakala yang harus selalu dilestarikan.
 




 



Sisi yang menarik dari pura ini adalah terdapatnya bangunan bekas peninggalan raja-raja ash Bali kuno, termasuk candi yang dipahat langsung di tebing, di sekitar pura. Pahatan dan bangunan-bangunan itu kini ditetapkan sebagai situs purbakala yang harus dilestarikan.

Ketika ke Bali, apa yang Anda lakukan selama berlibur di sana? Menghabiskan waktu bermain di pantai, membeli lukisan dan barang seni di daerah Ubud, atau mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Dari sekian agenda yang ada, seberapa tertarikkah Anda untuk mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Sepuluh orang yang ditanya mengenai hal ini menjawab bahwa kadar ketertarikan terhadap tempat seperti ini cukup tinggi.

Bentuk bangunan arsitektur Bali tidak hanya terbatas pada bangunan komersial atau hunian. Pura sebagai bangunan peribadahan merupakan bentuk bangunan yang bisa menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Bali.

Keberadaan pura di Bali memang jamak. Meskipun wisatawan tak bisa masuk ke dalam pura, memandang keelokan bentuk pura dari luar sudah cukup memikat wisatawan. Dari sekian pura yang ada di Bali, Pura Gunung Kawi adalah salah satu pura yang patut Anda kunjungi. Banyak alasan mengapa pura yang lokasinya berada di wilayah Banjar (Dusun) Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, harus Anda datangi.

Setidaknya ada dua alasan yang bisa memicu Anda untuk datang ke tempat ini. Pertama karena letaknya berada di lembah bukit, dan kedua karena letaknya dikelilingi oleh candi yang dipahat langsung di dinding.

Menuruni sekitar 320 anak tangga
Memasuki kawasan Pura Gunung Kawi harus menyiapkan tenaga ekstra. Pura ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh dari parkiran mobil. Dari pintu gerbang, tempat pengunjung harus membeli karcis masuk seharga Rp 6.000, kita harus menuruni sekitar 320 anak tangga. Ini tak lain karena letak pura terdapat di dasar lembah.

Perjalanan menuruni sekitar 320 anak tangga ini tak terasa melelahkan karena di sekeliling tangga Anda bisa melihat hamparan hijaunya sawah yang bentuk lahannya bertingkat. Selain itu, jika lelah, Anda bisa beristirahat di warung-warung yang ada di sebelah anak tangga.

Sesampainya di dasar lembah, Anda akan memasuki lorong panjang yang konon dibuat dengan cara membelah batu besar. Lorong ini adalah pintu masuk menuju kawasan Pura Gunung Kawi.

Kawasan yang ditemukan sekitar awal tahun 1910 ini terpisah menjadi dua bagian oleh Sungai/Tukad Pakerisan, bagian di sebelah barat dan bagian di sebelah timur Sungai Pakerisan. Di kedua bagian ini, Anda bisa melihat candi yang melekat langsung di dinding tebing. Candi yang dipahat langsung di dinding tebing inilah yang menjadi daya tarik mengapa Anda harus datang ke tempat ini.

Empat gugusan
Pahatan candi yang ada di dinding tebing batu ini memiliki beberapa makna dan fungsi, baik yang berada di sisi barat, maupun timur Sungai Pakerisan. Menurut beberapa sumber literatur, adanya pahatan ini mengilhami penamaan kawasan ini. Ada yang menyebutkan bahwa kata ukiran dalam bahasa Jawa Kuno adalah Kawi. Karena adanya candi yang diukir di dinding tebing dan berada di pegunungan, maka pura yang ada di kawasan ini disebut Pura Gunung Kawi.

Secara keseluruhan, pahatan candi di dinding tebing yang ada di kawasan Pura Gunung Kawi ini terbagi menjadi empat gugusan. Gugusan pertama terdiri dari 5 candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi timur sungai.

Pada pahatan candi yang ada di sisi paling utara terdapat tulisan "Haji Lumah Ing Jalu". Dari tulisan ini, ada yang menyebutkan bahwa candi di sisi paling utara ini digunakan untuk istana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sementara itu, candi di sebelahnya adalah istana untuk permaisurinya dan anak-anak Raja Udayana, Marakata dan Anak Wungsu.

Gugusan kedua terdiri dari empat candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi barat sungai. Dr R Goris, arkeolog dari Belanda, dalam beberapa literaturya menyebutkan bahwa keempat deretan candi ini berfungsi sebagai kuil (padharman) bagi keempat permaisuri raja.

Gugusan ketiga adalah bangunan biara dan ceruk (rongga besar) yang dipahatkan pada tebing yang terletak di sebelah selatan gugusan pertama. Adapun gugusan keempat merupakan sebuah candi dan ceruk yang digunakan sebagai tempat pertapaan. Letaknya berada sekitar 220 meter dari gugusan kedua.

Lantas, di mana letak puranya? Pura ini sendiri letaknya berada di samping gugusan candi pertama. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan pelengkap pura, seperti pelinggih dan bale perantenan.

Pura Gunung Kawi biasa digunakan pada saat upacara Piodalan. Upacara yang dilakukan setiap bulan purnama tiba ini adalah upacara pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan, pura, dan kahyangan.

Diukir dengan kuku jari
Jika ditilik ke masa lalu, keberadaan pura ini tidak terlepas dari gugusan-gugusan pahatan yang ada. Tulisan-tulisan yang ada di setiap pahatan yang berfungsi sebagai data arkeologi menunjukkan bahwa Pura Gunung Kawi dibuat pada abad ke-11.

Hal ini terlihat dari tulisan "Haji Lumah Ing Jalu". Bentuk tulisan ini adalah bentuk tulisan kadiri kuadrat yang lazim digunakan di kerajaan yang ada di Jawa Timur pada abad ke-11.

Pada masa itu, pemerintahan yang sedang berkuasa adalah Raja Marakatapangkaja. Oleh karena itu, banyak pihak yang mengatakan bahwa kompleks Aura Gunung Kawi ini dibangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu.

Salah satu bukti bahwa Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan pembangunan ini adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu. Selain itu, di sini juga terdapat makam Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin kerajaan terbesar di Bali.

Makam abu kedua raja ini berada di balik pahatan candi dinding. Dengan adanya makam ini, tak heran bila kompleks pura ini disebut sebagai makam Dinasti Warmadewa.

Beberapa sumber literatur dan warga di sekitar Pura Gunung Kawi menyebutkan bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh Kebo Iwa, tokoh legenda rakyat Bali yang memiliki kekuatan besar. Ia membuat pahatan candi di tebing batu ini menggunakan kuku tangannya.

Keelokan pahatan dinding dan pura yang ada di sini menawan dilihat dan harus dijaga keberadaannya. Oleh karena itu, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali menetapkan bahwa kawasan ini adalah aset purbakala yang harus selalu dilestarikan.
 

Jumat, 31 Mei 2013

Gunung Rinjani


   
DIPISAHKAN oleh selat kecil nan dalam, Pulau Lombok seperti kembaran Pulau Bali. Gunung Rinjani menjulang di tengah pulau ini, persis seperti Gunung Agung yang berdiri megah di tengah Pulau Dewata.

Berbeda dengan masyarakat Bali yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu, masyarakat di sekitar Gunung Rinjani dan Lombok memeluk agama Islam. Sama seperti masyarakat di lereng Gunung Agung, sebagian masyarakat di lereng Gunung Rinjani juga masih memercayai kekuatan adikodrati yang menjaga gunung.

Jejak kepercayaan itu terlihat saat 11 warga Sembalun Bumbung, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menggelar ritual pemandian suci di hulu Sungai Kokok Putih di sekitar kaldera Gunung Rinjani pada 29 September 2011.

Siang itu, mereka duduk di tepian telaga. Kaki anak-anak muda itu terendam air sebatas lutut. Kain putih membelit tubuh mereka sebatas pinggang. Udeng yang juga berwarna putih melilit kepala. Mereka menunggu dalam diam.

Dari celah tebing, air panas mengucur deras ke telaga. Asap tipis mengepul di sepanjang tali air yang berwarna putih kekuningan, kontras dengan hitamnya bebatuan. Bau belerang samar tercium. Uapnya mengusir hawa dingin.

Beberapa langkah dari tepi telaga, pada sebuah ceruk, Haji Purnipa (65) duduk bersila. Semerbak harum bunga, kemenyan, dan gaharu menguar dari tungku kecil di depannya. Di ceruk itu dia membaca doa-doa. ”Memohon izin kepada para aulia—orang suci yang dianggap menjadi wakil Tuhan di bumi,” kata Purnipa.

Seusai berdoa, dia melangkah ke arah telaga dan duduk bersila di atas batu besar. Sejenak Purnipa terdiam. Lalu, tiba-tiba terdengar suara berat menggema. Purnipa melantunkan tembang Kumambang Pengerumrum—di Jawa dikenal sebagai Maskumambang. Suaranya terpantul di dinding-dinding tebing yang mengelilingi lembah itu.

Melalui tembang itu, Purnipa memanjatkan doa-doa untuk anak-anak muda itu. Pertama-tama, doa dipanjatkan kepada Dewi Anjani, yang disebutnya sebagai penguasa Danau Segara Anak. Lalu, kepada para wali dari maghrib (barat) sampai masyriq (timur). Doa juga dipanjatkan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW. ”Semoga anak-anak itu menemukan apa yang diniatkan, yaitu pencarian jati diri,” katanya.

Bersama dengan dendang tembang, anak-anak muda itu bergantian menyelam dalam telaga. Mereka telentang di dalam air hangat itu. Napas tertahan, telapak tangan menyatu di dada, dan mata terpejam.

Setiap orang tujuh kali membenamkan diri ke dalam air. Mereka lalu menggosok tubuh dengan tujuh lembar daun tapen, tengah layu, dan terunas malam. Angka tujuh, menurut Purnipa, menyimbolkan tujuh lapis roh manusia, tujuh lapis langit, dan tujuh lapis surga.

Daun tapen menjadi pembuka kotoran pertama di tubuh. Daun tengah layu yang tak kenal layu, bahkan di musim kemarau, merupakan perlambang kekekalan roh. ”Roh tidak akan mati, hanya berpindah alam,” kata Purnipa. Terakhir, basuhan daun terunas malam menjadi simbol jiwa yang menebar keharuman. Daun terunas malam itu sungguh harum dan nyaman dihirup.

Sebelum mengikuti ritual pemandian, mereka dibaiat agar menghentikan segala perilaku buruk di masa lalu. ”Mereka berjanji pada diri sendiri untuk berubah. Kalau dilanggar, mereka akan menanggung risiko berat,” ujar Purnipa.

Pemandian di sumber air panas ini menjadi puncak bagi segenap prosesi pencucian diri yang dijalani anak-anak muda itu. Dua malam sebelumnya, Purnipa membawa anak-anak muda itu menembus kegelapan untuk berdoa di kompleks makam Raden Ketip Muda yang dipercaya sebagai leluhur Desa Sembalun Bumbung.

Temaram pelita yang bergoyang-goyang diterpa angin menguak sosok pohon beringin yang berdiri kokoh di depan sebuah pondok kayu berbentuk panggung. Satu per satu anggota rombongan melepas alas kaki dan menapaki tangga masuk ke bangunan kayu beratap rumbia itu. Satu per satu duduk bersila menghadap sesaji sesisir pisang, nasi tumpeng ketan kuning, ayam ingkung, serundeng, dan dua poci air putih.

Muhammad Saidi (23), putra bungsu Purnipa yang berpakaian putih dengan ikat kepala hitam, menyalakan dupa di nampan kecil. Mimik muka Saidi serius. Ia membisu selama mempersiapkan upacara pembadak untuk meminta izin sebelum mendaki Gunung Rinjani.

Ritual pembadak, menurut Purnipa, merupakan tradisi masyarakat Sembalun Bumbung yang sekarang mulai pudar. Ritual ini merupakan kearifan lokal masyarakat untuk hidup harmonis dengan alam pegunungan. ”Dulu, sebelum warga berangkat ke gunung atau ingin mengambil sesuatu dari gunung, seperti menebang pohon, harus didahului upacara pembadak, yaitu memohon izin terhadap alam,” katanya.

Ia harus menyatakan niat sebelum menebang pohon, misalnya untuk membangun rumah. Pengambilan itu secukupnya, tidak boleh berlebihan. ”Kalau niatnya hanya untuk rumah, tidak boleh menebang pohon untuk dijual,” katanya. Ritual ini sekaligus menjadi kontrol supaya tidak terjadi penebangan liar di hutan Rinjani, yang bisa mengganggu keseimbangan alam.

”Gunung Rinjani merupakan pusat ngayu-ayu atau rahayu, kemakmuran. Karena itu, kita harus menyatukan diri dengan alam,” ujar Purnipa.

Penyatuan diri dengan alam itulah yang akan dijalani para pemuda itu. Mereka ingin meninggalkan masa lalu yang keliru dan mencari kedamaian hidup.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.15. Angin bertiup semakin kencang. Titik-titik air mulai sering menerpa wajah seiring embusan angin meruapkan dingin yang menggigilkan.

Purnipa yang mengenakan pakaian hitam dan jarit hitam bergegas memulai upacara. Doa-doa berbahasa Arab diselingi kalimat-kalimat Jawa kuno mengalun. Alunan doa itu berselang-seling dengan gemersik dedaunan ditiup angin.

Ritual pembadak ini, menurut Purnipa, dimaksudkan untuk meminta izin kepada Sang Pencipta dan kekuatan-kekuatan alam yang ada di Gunung Rinjani supaya melindungi para pendaki, anak-anak muda yang bertekad membersihkan diri. ”Mereka akan menyucikan diri di sana supaya tidak mengulangi kenakalan-kenakalannya.”

Jumat, 17 Mei 2013

Pantai Prasi

Pantai Prasi atau Virgin Beach Bali
Bali dimata para wisatawan selalu menampilkan wajah pantainya yang dominan. Salah satunya yakni Pantai Prasi atau Virgin Beach yang berada di Kabupaten Karangasem. Belum banyak orang ataupun wisatawan tahu tentang eksistensi pantai ini. Orang – orang menyebutnya dengan berbagai macam nama mulai dari Pantai pasir putih, pantai Prasi dan sekarang terkenal dengan Virgin Beach. Tidak ada yang tahu dengan pasti mengapa turis mancanegara lebih suka menyebutnya pantai ini dengan sebutan Virgin Beach. Namun, bila dperhatikan memang tidak ada yang salah dengan nama Virgin Beach karena keadaan alamnya masih asli alias “pure”, suasana tenang, ombaknya tergolong sedang,suasana tenang, kalau pagi airnya masih terasa dingin, di sini sangat cocok sekali untuk berenang maupun snorkeling tentunya berjemur juga terutama untuk wisatawan asing.
Panorama laut di Virgin Beach memang luar biasa indah. Terletak diantara dua tebing sehingga pantainya cukup tersembunyi, yakni berada di balik Bukit Bugbug dan Perasi.Deburan ombaknya yang tergolong sedang menggoda wisatawan untuk berenang di pantai ini. Pohon-pohon kelapa yang berada di bibir pantai menjadi hiasan. Pantai ini terlihat mirip dengan pantai Balangan bedanya Balangan menghadap ke Utara bisa menyaksikan matahari tenggelam, sedang di pantai ini menghadap ke Selatan.
Untuk sampai di pantai ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari lokasi Candidasa walaupun untuk mencapai ke lokasi medan cukup sulit. Untuk menjangkaunya, pengunjung mesti menempuh jarak sekitar 100 meter dari jalan aspal. Tapi masih tetap ditempuh dengan roda empat. Kalau sudah melihat panorama Virgin Beach semua rasa lelah selama perjalanan akan hilang seketika karena kondisi yang masih pure, suasana tenang, dan airnya yang dingin serta jernih.

Jumat, 10 Mei 2013

Pantai Seminyak






 


Pantai seminyak (beberapa orang menyebutnya Pantai Dhyanapura)terletak kawasan desa seminyak kecamatan kuta kabupaten badung, pantai ini memiliki pasir yang sangat lembut dan landai. Di dekat pantai ini terdapat banyak restorant, hotel maupun villa. sehingga banyak wisatawan mancanegara datang, pun juga wisatawan lokal. Lokasi pantai seminyak juga menjadi satu dengan pantai double six.
Pantai ini terletak di sebelah utara pantai Kuta. Atmosfernya hampir sama dengan pantai Kuta, bedanya karena lokasinya agak jauh dari pusat keramaian Kuta, pengunjung pantai Legian dan Seminyak tidak sebanyak pantai Kuta. Namun justru di sinilah kelebihannya! Suasana yang tak sehiruk-pikuk Kuta membuat kamu lebih tenang menikmati liburan.
Legian awalnya adalah sebuah desa agraris. Meski letaknya di tepi pantai, sebagian besar warganya hidup dari bertani. Hanya sebagian kecil warga Legian berprofesi sebagai nelayan. Begitu kunjungan ke kawasan wisata Kuta semakin membludak, luberan pengunjung mengarah ke Legian dan Seminyak yang letaknya bersebelahan. Dua desa tersebut pun turut berbenah dan menyediakan berbagai fasilitas untuk pelancong.
Kini, di kedua pantai ini, kamu juga bisa melakukan aktivitas yang biasa didapatkan di pantai Kuta. Berenang, sun bathing di pasirnya yang putih, surfing, bermain bola di pesisir pantai, juga menikmati panorama saat matahari terbenam.
Restaurant dan kafe terkenal kini sebagian ada di Seminyak. Sebagian kafe tersebut sering menyelenggarakan pesta yang heboh. Yang menarik, di sepanjang jalan menuju pantai Seminyak berdiri jajaran restauran yang menawarkan hidangan yang rasanya mak nyus, dari harga yang murah sampai yang menguras kantong (kebanyakan orang), dari yang hidangan tradisional hingga hidangan internasional. Makanya jalanan tersebut dijuluki eating street.
Akses Dari Kuta, Legian dan Seminyak dapat kalian jangkau dengan berjalan kaki.
Bungy Jumping Ini adalah wahana wisata untuk memacu adrenalin, yakni meloncat bebas dari menara setinggi 45 meter. Tak ada pengaman saat kamu meloncat kecuali seutas tali khusus yang diikatkan pada pergelangan kakimu. Saat ini, hanya tinggal satu wahana Bungy Jumping beroperasi di Bali, yakni AJ Hawckett yang terletak di pinggir pantai Seminyak, persis di sebelah Club Double Six.
Ada tiga pilihan waktu untuk melompat, yakni siang, sore dan malam hari. Melompat di siang atau sore hari, kamu sama-sama dapat menikmati pemandangan indah sepanjang pesisir pantai Kuta-Legian-Seminyak. Jika kamu ingin mendapatkan foto dirimu saat melayang dengan latar belakang langit biru, melompatlah di siang hari. Jika ingin berlatar belakang langit kemerahan, melompatlah menjelang matahari terbenam.
Melompat di malam hari biasanya dilakukan oleh orang-orang ingin merasakan sensasi melayang di tengah kegelapan.
Untuk mencapai puncak menara, tersedia elevator khusus yang membawa kamu naik.
Biaya Sekali lompat kamu dikenai biaya sekitar Rp 400 ribu – Rp 500 ribu. Harga itu sudah termasuk pajak, asusransi, T-shirt, sertifikat, serta jemput antar ke hotel-hotel di Legian, Seminyak, Oberoi, Kuta, Nusa Dua dan Sanur.
Waktu buka Pukul 12.00 - 20.00
Banyak sekali hal yang menarik dari pantai seminyak, salah satunya tempat yang sangat indah dan cocok untuk menikmati sunset. di temani deburan ombak yang sangat indah kami berenang dan menikmati indahnya pemandangan sore. banyak sekali pengunjung pantai tersebut, dengan segala hal yang di lakukan masing. ada yang bermain bola, di pinggir pantai, surfing, berenang, ataupun sekedar duduk menikmati terbenamnya matahari.
Pantai Seminyak, Bali, masuk dalam daftar destinasi yang makin populer versi Tripadvisor.com, sebuah situs perjalanan yang sering menjadi panduan bagi para calon wisatawan seluruh dunia.

Jumat, 03 Mei 2013

pantai canggu


Pantai Canggu terletak di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, berada hanya beberapa kilometer dari pantai Legian. Pantai Canggu memiliki keunikan tersendiri dimana diseberang pesisir pantai terdapat hamparan sawah yang luas lengkap dengan burung burung yang berterbangan diatasnya. Dengan Panorama yang unik ini membuat siapapun yang berkunjung ke objek wisata ini menemukan ketenangan dan kenyamanan berwisata.
Pantai Canggu banyak dikunjungi peselancar lokal maupun manca negara dikarenakan pantai ini mempunyai gelombang yang tinggi sehingga pada tahun 2004 digelar Indonesia Surfing Championship (ISC). Sejak itu Pantai Canggu menjadi terkenal dan merupakan salah satu surga yang harus dikunjungi oleh para peselancar dunia.
Seiring perkembangannya pantai ini selalu berbenah diri dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas : hotel, villa, resort, restaurant dan café.
Jarak tempuh kelokasi pantai ini lebih kurang 18 km dari kota Denpasar dan kira-kira 45 menit perjalanan bila menggunakan kendaraaan bermotor dari Bandara Ngurah Rai Bali.
Bila anda datang ke Bali dan ingin meyaksikan suasana yang menawan hati pantai Canggu bisa dijadikan alternatif pilihan.

Jumat, 05 April 2013

Sebagaimana yang selama ini dikenal bahwa kawasan Tabanan memiliki daya tarik wisata yang alami, indah dan memukau. Keindahan alam berpadu dengan suhunya yang sejuk sehingga menjadikannya tempat yang sangat potensial untuk mengembangkan daerah ini menjadi sentra agrowisata. Desa Gadungan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Tabanan ialah salah satu yang memiliki kawasan agrowisata ini dengan dipenuhi oleh aneka macam tanaman holtikultura.
Kawasan agrowisata Desa Gadungan ini merupakan daerah agrowisata unggulan dan kerap menjadi proyek percontohan bagi daerah lainnya yang ingin mengembangkan agrowisata. Disini  terkenal sebagai penghasil cokelat terbaik dengan total luas lahan yang dimiliki sekitar 60 hektar. Kesemua lahan disini memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan karena terdapat juga areal treking sepanjang 3 km lengkap dengan pemandangannya yang eksotik.
Yang menjadi mata pencaharian penduduk sekitar ialah bertani karena memang kawasan ini mendukung untuk kegiatan yang satu ini. Perkebunan juga menjadi mata pencaharian favorit penduduk disini. Konstruksi penduduk yang demikian tentu berimplikasi pada cara dan gaya hidup yang mereka anut yang terlihat sederhana, apa adanya dan setia kepada alam.
Di Desa Gadungan ini selain pengunjung bisa menikmati berbagai keindahan alam dan zona trekking juga bisa menikmati beragam menu tradisional semacam kelapa muda, aneka kue yang diproduksi sendiri yang seyogyanya bisa dijumpai di sepanjang jalan menuju desa ini. Tarian tradisional juga kerap dipentaskan di desa ini yang bertujuan selain menjaga nilai-nilai lestari kebudayaan desa ini juga menghibur para wisatawan yang datang kesini.