Jumat, 31 Mei 2013

Gunung Rinjani


   
DIPISAHKAN oleh selat kecil nan dalam, Pulau Lombok seperti kembaran Pulau Bali. Gunung Rinjani menjulang di tengah pulau ini, persis seperti Gunung Agung yang berdiri megah di tengah Pulau Dewata.

Berbeda dengan masyarakat Bali yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu, masyarakat di sekitar Gunung Rinjani dan Lombok memeluk agama Islam. Sama seperti masyarakat di lereng Gunung Agung, sebagian masyarakat di lereng Gunung Rinjani juga masih memercayai kekuatan adikodrati yang menjaga gunung.

Jejak kepercayaan itu terlihat saat 11 warga Sembalun Bumbung, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menggelar ritual pemandian suci di hulu Sungai Kokok Putih di sekitar kaldera Gunung Rinjani pada 29 September 2011.

Siang itu, mereka duduk di tepian telaga. Kaki anak-anak muda itu terendam air sebatas lutut. Kain putih membelit tubuh mereka sebatas pinggang. Udeng yang juga berwarna putih melilit kepala. Mereka menunggu dalam diam.

Dari celah tebing, air panas mengucur deras ke telaga. Asap tipis mengepul di sepanjang tali air yang berwarna putih kekuningan, kontras dengan hitamnya bebatuan. Bau belerang samar tercium. Uapnya mengusir hawa dingin.

Beberapa langkah dari tepi telaga, pada sebuah ceruk, Haji Purnipa (65) duduk bersila. Semerbak harum bunga, kemenyan, dan gaharu menguar dari tungku kecil di depannya. Di ceruk itu dia membaca doa-doa. ”Memohon izin kepada para aulia—orang suci yang dianggap menjadi wakil Tuhan di bumi,” kata Purnipa.

Seusai berdoa, dia melangkah ke arah telaga dan duduk bersila di atas batu besar. Sejenak Purnipa terdiam. Lalu, tiba-tiba terdengar suara berat menggema. Purnipa melantunkan tembang Kumambang Pengerumrum—di Jawa dikenal sebagai Maskumambang. Suaranya terpantul di dinding-dinding tebing yang mengelilingi lembah itu.

Melalui tembang itu, Purnipa memanjatkan doa-doa untuk anak-anak muda itu. Pertama-tama, doa dipanjatkan kepada Dewi Anjani, yang disebutnya sebagai penguasa Danau Segara Anak. Lalu, kepada para wali dari maghrib (barat) sampai masyriq (timur). Doa juga dipanjatkan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW. ”Semoga anak-anak itu menemukan apa yang diniatkan, yaitu pencarian jati diri,” katanya.

Bersama dengan dendang tembang, anak-anak muda itu bergantian menyelam dalam telaga. Mereka telentang di dalam air hangat itu. Napas tertahan, telapak tangan menyatu di dada, dan mata terpejam.

Setiap orang tujuh kali membenamkan diri ke dalam air. Mereka lalu menggosok tubuh dengan tujuh lembar daun tapen, tengah layu, dan terunas malam. Angka tujuh, menurut Purnipa, menyimbolkan tujuh lapis roh manusia, tujuh lapis langit, dan tujuh lapis surga.

Daun tapen menjadi pembuka kotoran pertama di tubuh. Daun tengah layu yang tak kenal layu, bahkan di musim kemarau, merupakan perlambang kekekalan roh. ”Roh tidak akan mati, hanya berpindah alam,” kata Purnipa. Terakhir, basuhan daun terunas malam menjadi simbol jiwa yang menebar keharuman. Daun terunas malam itu sungguh harum dan nyaman dihirup.

Sebelum mengikuti ritual pemandian, mereka dibaiat agar menghentikan segala perilaku buruk di masa lalu. ”Mereka berjanji pada diri sendiri untuk berubah. Kalau dilanggar, mereka akan menanggung risiko berat,” ujar Purnipa.

Pemandian di sumber air panas ini menjadi puncak bagi segenap prosesi pencucian diri yang dijalani anak-anak muda itu. Dua malam sebelumnya, Purnipa membawa anak-anak muda itu menembus kegelapan untuk berdoa di kompleks makam Raden Ketip Muda yang dipercaya sebagai leluhur Desa Sembalun Bumbung.

Temaram pelita yang bergoyang-goyang diterpa angin menguak sosok pohon beringin yang berdiri kokoh di depan sebuah pondok kayu berbentuk panggung. Satu per satu anggota rombongan melepas alas kaki dan menapaki tangga masuk ke bangunan kayu beratap rumbia itu. Satu per satu duduk bersila menghadap sesaji sesisir pisang, nasi tumpeng ketan kuning, ayam ingkung, serundeng, dan dua poci air putih.

Muhammad Saidi (23), putra bungsu Purnipa yang berpakaian putih dengan ikat kepala hitam, menyalakan dupa di nampan kecil. Mimik muka Saidi serius. Ia membisu selama mempersiapkan upacara pembadak untuk meminta izin sebelum mendaki Gunung Rinjani.

Ritual pembadak, menurut Purnipa, merupakan tradisi masyarakat Sembalun Bumbung yang sekarang mulai pudar. Ritual ini merupakan kearifan lokal masyarakat untuk hidup harmonis dengan alam pegunungan. ”Dulu, sebelum warga berangkat ke gunung atau ingin mengambil sesuatu dari gunung, seperti menebang pohon, harus didahului upacara pembadak, yaitu memohon izin terhadap alam,” katanya.

Ia harus menyatakan niat sebelum menebang pohon, misalnya untuk membangun rumah. Pengambilan itu secukupnya, tidak boleh berlebihan. ”Kalau niatnya hanya untuk rumah, tidak boleh menebang pohon untuk dijual,” katanya. Ritual ini sekaligus menjadi kontrol supaya tidak terjadi penebangan liar di hutan Rinjani, yang bisa mengganggu keseimbangan alam.

”Gunung Rinjani merupakan pusat ngayu-ayu atau rahayu, kemakmuran. Karena itu, kita harus menyatukan diri dengan alam,” ujar Purnipa.

Penyatuan diri dengan alam itulah yang akan dijalani para pemuda itu. Mereka ingin meninggalkan masa lalu yang keliru dan mencari kedamaian hidup.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.15. Angin bertiup semakin kencang. Titik-titik air mulai sering menerpa wajah seiring embusan angin meruapkan dingin yang menggigilkan.

Purnipa yang mengenakan pakaian hitam dan jarit hitam bergegas memulai upacara. Doa-doa berbahasa Arab diselingi kalimat-kalimat Jawa kuno mengalun. Alunan doa itu berselang-seling dengan gemersik dedaunan ditiup angin.

Ritual pembadak ini, menurut Purnipa, dimaksudkan untuk meminta izin kepada Sang Pencipta dan kekuatan-kekuatan alam yang ada di Gunung Rinjani supaya melindungi para pendaki, anak-anak muda yang bertekad membersihkan diri. ”Mereka akan menyucikan diri di sana supaya tidak mengulangi kenakalan-kenakalannya.”

Jumat, 17 Mei 2013

Pantai Prasi

Pantai Prasi atau Virgin Beach Bali
Bali dimata para wisatawan selalu menampilkan wajah pantainya yang dominan. Salah satunya yakni Pantai Prasi atau Virgin Beach yang berada di Kabupaten Karangasem. Belum banyak orang ataupun wisatawan tahu tentang eksistensi pantai ini. Orang – orang menyebutnya dengan berbagai macam nama mulai dari Pantai pasir putih, pantai Prasi dan sekarang terkenal dengan Virgin Beach. Tidak ada yang tahu dengan pasti mengapa turis mancanegara lebih suka menyebutnya pantai ini dengan sebutan Virgin Beach. Namun, bila dperhatikan memang tidak ada yang salah dengan nama Virgin Beach karena keadaan alamnya masih asli alias “pure”, suasana tenang, ombaknya tergolong sedang,suasana tenang, kalau pagi airnya masih terasa dingin, di sini sangat cocok sekali untuk berenang maupun snorkeling tentunya berjemur juga terutama untuk wisatawan asing.
Panorama laut di Virgin Beach memang luar biasa indah. Terletak diantara dua tebing sehingga pantainya cukup tersembunyi, yakni berada di balik Bukit Bugbug dan Perasi.Deburan ombaknya yang tergolong sedang menggoda wisatawan untuk berenang di pantai ini. Pohon-pohon kelapa yang berada di bibir pantai menjadi hiasan. Pantai ini terlihat mirip dengan pantai Balangan bedanya Balangan menghadap ke Utara bisa menyaksikan matahari tenggelam, sedang di pantai ini menghadap ke Selatan.
Untuk sampai di pantai ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari lokasi Candidasa walaupun untuk mencapai ke lokasi medan cukup sulit. Untuk menjangkaunya, pengunjung mesti menempuh jarak sekitar 100 meter dari jalan aspal. Tapi masih tetap ditempuh dengan roda empat. Kalau sudah melihat panorama Virgin Beach semua rasa lelah selama perjalanan akan hilang seketika karena kondisi yang masih pure, suasana tenang, dan airnya yang dingin serta jernih.

Jumat, 10 Mei 2013

Pantai Seminyak






 


Pantai seminyak (beberapa orang menyebutnya Pantai Dhyanapura)terletak kawasan desa seminyak kecamatan kuta kabupaten badung, pantai ini memiliki pasir yang sangat lembut dan landai. Di dekat pantai ini terdapat banyak restorant, hotel maupun villa. sehingga banyak wisatawan mancanegara datang, pun juga wisatawan lokal. Lokasi pantai seminyak juga menjadi satu dengan pantai double six.
Pantai ini terletak di sebelah utara pantai Kuta. Atmosfernya hampir sama dengan pantai Kuta, bedanya karena lokasinya agak jauh dari pusat keramaian Kuta, pengunjung pantai Legian dan Seminyak tidak sebanyak pantai Kuta. Namun justru di sinilah kelebihannya! Suasana yang tak sehiruk-pikuk Kuta membuat kamu lebih tenang menikmati liburan.
Legian awalnya adalah sebuah desa agraris. Meski letaknya di tepi pantai, sebagian besar warganya hidup dari bertani. Hanya sebagian kecil warga Legian berprofesi sebagai nelayan. Begitu kunjungan ke kawasan wisata Kuta semakin membludak, luberan pengunjung mengarah ke Legian dan Seminyak yang letaknya bersebelahan. Dua desa tersebut pun turut berbenah dan menyediakan berbagai fasilitas untuk pelancong.
Kini, di kedua pantai ini, kamu juga bisa melakukan aktivitas yang biasa didapatkan di pantai Kuta. Berenang, sun bathing di pasirnya yang putih, surfing, bermain bola di pesisir pantai, juga menikmati panorama saat matahari terbenam.
Restaurant dan kafe terkenal kini sebagian ada di Seminyak. Sebagian kafe tersebut sering menyelenggarakan pesta yang heboh. Yang menarik, di sepanjang jalan menuju pantai Seminyak berdiri jajaran restauran yang menawarkan hidangan yang rasanya mak nyus, dari harga yang murah sampai yang menguras kantong (kebanyakan orang), dari yang hidangan tradisional hingga hidangan internasional. Makanya jalanan tersebut dijuluki eating street.
Akses Dari Kuta, Legian dan Seminyak dapat kalian jangkau dengan berjalan kaki.
Bungy Jumping Ini adalah wahana wisata untuk memacu adrenalin, yakni meloncat bebas dari menara setinggi 45 meter. Tak ada pengaman saat kamu meloncat kecuali seutas tali khusus yang diikatkan pada pergelangan kakimu. Saat ini, hanya tinggal satu wahana Bungy Jumping beroperasi di Bali, yakni AJ Hawckett yang terletak di pinggir pantai Seminyak, persis di sebelah Club Double Six.
Ada tiga pilihan waktu untuk melompat, yakni siang, sore dan malam hari. Melompat di siang atau sore hari, kamu sama-sama dapat menikmati pemandangan indah sepanjang pesisir pantai Kuta-Legian-Seminyak. Jika kamu ingin mendapatkan foto dirimu saat melayang dengan latar belakang langit biru, melompatlah di siang hari. Jika ingin berlatar belakang langit kemerahan, melompatlah menjelang matahari terbenam.
Melompat di malam hari biasanya dilakukan oleh orang-orang ingin merasakan sensasi melayang di tengah kegelapan.
Untuk mencapai puncak menara, tersedia elevator khusus yang membawa kamu naik.
Biaya Sekali lompat kamu dikenai biaya sekitar Rp 400 ribu – Rp 500 ribu. Harga itu sudah termasuk pajak, asusransi, T-shirt, sertifikat, serta jemput antar ke hotel-hotel di Legian, Seminyak, Oberoi, Kuta, Nusa Dua dan Sanur.
Waktu buka Pukul 12.00 - 20.00
Banyak sekali hal yang menarik dari pantai seminyak, salah satunya tempat yang sangat indah dan cocok untuk menikmati sunset. di temani deburan ombak yang sangat indah kami berenang dan menikmati indahnya pemandangan sore. banyak sekali pengunjung pantai tersebut, dengan segala hal yang di lakukan masing. ada yang bermain bola, di pinggir pantai, surfing, berenang, ataupun sekedar duduk menikmati terbenamnya matahari.
Pantai Seminyak, Bali, masuk dalam daftar destinasi yang makin populer versi Tripadvisor.com, sebuah situs perjalanan yang sering menjadi panduan bagi para calon wisatawan seluruh dunia.

Jumat, 03 Mei 2013

pantai canggu


Pantai Canggu terletak di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, berada hanya beberapa kilometer dari pantai Legian. Pantai Canggu memiliki keunikan tersendiri dimana diseberang pesisir pantai terdapat hamparan sawah yang luas lengkap dengan burung burung yang berterbangan diatasnya. Dengan Panorama yang unik ini membuat siapapun yang berkunjung ke objek wisata ini menemukan ketenangan dan kenyamanan berwisata.
Pantai Canggu banyak dikunjungi peselancar lokal maupun manca negara dikarenakan pantai ini mempunyai gelombang yang tinggi sehingga pada tahun 2004 digelar Indonesia Surfing Championship (ISC). Sejak itu Pantai Canggu menjadi terkenal dan merupakan salah satu surga yang harus dikunjungi oleh para peselancar dunia.
Seiring perkembangannya pantai ini selalu berbenah diri dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas : hotel, villa, resort, restaurant dan café.
Jarak tempuh kelokasi pantai ini lebih kurang 18 km dari kota Denpasar dan kira-kira 45 menit perjalanan bila menggunakan kendaraaan bermotor dari Bandara Ngurah Rai Bali.
Bila anda datang ke Bali dan ingin meyaksikan suasana yang menawan hati pantai Canggu bisa dijadikan alternatif pilihan.